apranite - the unforgettable stories
Sabtu, 09 Agustus 2014
Fixed Mindset vs Growth Mindset
Kamis, 31 Juli 2014
Kelereng Terakhir Genta
"Mau diadu lagi nggak?"
Lelaki bau kencur itu tertekan berlebih. Sungguh ia belumlah cukup umur untuk menerima tekanan sebesar itu. Ia duduk berjongkok, dikelilingi oleh teman sepermainannya. Ia mengenggam kelereng di tangannya. Itu adalah kelereng terakhir yang ia punya, setelah ia kehilangan banyak kelereng dari dua kekalahan di pertandingan sebelumnya.
"Kalo nggak mau ya sudah kita cabut nih"
Bulu kuduknya mendadak berdiri. Dalam kondisi ini ia dituntut menentukan pilihan secepat mungkin. Membiarkan ia kehilangan seluruh aset berharga dan tenggelam dalam kehinaan karena kecurangan, atau memperjuangkan hak-hak yang memang seharusnya dimiliki oleh anak kecil seusianya.
"Oke, dua ratus kelereng!"
"Lo punya kelereng segitu? Ditangan lo cuma satu gitu ha ha"
"Di rumah gue ada kok"
"Lo jangan main-main sama gue ya!"
Ia kembali tersentak. Memang, ia tak cukup punya mental yang kuat untuk menerima hardikan dan gertakan dari para penggila kelereng. Tapi ia tetap bertahan terhadap ketidaknyamanan yang ia rasakan.
Anak kecil berperut tambun tersebut akhirnya mengeluarkan stok terakhir kelerengnya yang ia simpan di dalam kantungnya. Bukan apa-apa ia melakukan seperti itu. Ia merencanakan sesuatu di benaknya, demi membalaskan dendam yang sudah tak tertahankan lagi untuk dikekang.
Pertarungan pun kembali dimulai. Setelah saling kejar mengejar dan tubruk menubruk antar kelereng, didapatkanlah kondisi yang hampir mirip seperti dua permainan sebelumnya.
Ia sudah menduga jika hal menjijikan akan terjadi lagi. Lawan mainnya -anak gede kelas satu SMP, diam-diam menggeser kelereng yang seharusnya mudah untuk ditembak ke tempat yang sulit dijangkau. Aha! Ini kesempatan baginya untuk membalaskan dendam. Ia mengambil segenggam kelereng dari kantungnya, dan melemparkannya tepat di kepala si anak curang tersebut. Dug.
Si anak curang tentu kesakitan. Genta berharap dua hal dari momen tersebut: pertama, melegakan amarah dalam hatinya, dan menyadarkan kesalahan yang telah ia perbuat. Tapi ia setengah benar. Si anak curang tak terima diperlakukan seperti itu. Dengan badan yang lebih besar dari Genta, ia mendekati Genta dan mencekik lehernya
"Maksud lo apa hah?"
Genta tercekik. Ia tak bisa bernafas. Matanya berkunang-kunang. Ia setengah sadar. Namun saraf reflek dan otak kadal kini mengambil alih peranan. Atas nama eksistensi hidup yang harus dipertahankan, Genta mengambil kantung berisi kelereng yang ia punya, dan menghantamkan ke kepala Si anak curang dengan amat keras. Si anak curang kolaps. Ia tahu jika ia membiarkan si anak curang bebas, sudah pasti ia akan kembali dicekik oleh si anak curang. Sekali lagi, atas nama eksistensi hidup, ia kembali menghantamkan kelerengnya ke kepalanya. Dua, tiga, empat, lima.
Kebenaran tampak sudah di depan mata. Kebenaran kini telah muncul senyata-nyatanya. Si anak curang tak sadarkan diri. Dan Genta secara heroik dapat membalaskan dendamnya.
Tapi, apakah ini semua menyelesaikan masalah sebenarnya? Ketika si anak curang dinyatakan tewas terkena hantaman tumpul. Dan Genta dituduh sebagai psikopat bocah, dan menghabiskan masa-masa kecilnya di panti rehabilitasi. Tak adakah keadilan bagi Genta, yang hanya ingin merasakan indahnya bermain, dan ingin kebenaran dijunjung setinggi-tingginya. tetapi ia semakin diasingkan dari hiruk pikuk kehidupan sosial? Adakah?
Lelaki bau kencur itu tertekan berlebih. Sungguh ia belumlah cukup umur untuk menerima tekanan sebesar itu. Ia duduk berjongkok, dikelilingi oleh teman sepermainannya. Ia mengenggam kelereng di tangannya. Itu adalah kelereng terakhir yang ia punya, setelah ia kehilangan banyak kelereng dari dua kekalahan di pertandingan sebelumnya.
"Kalo nggak mau ya sudah kita cabut nih"
Bulu kuduknya mendadak berdiri. Dalam kondisi ini ia dituntut menentukan pilihan secepat mungkin. Membiarkan ia kehilangan seluruh aset berharga dan tenggelam dalam kehinaan karena kecurangan, atau memperjuangkan hak-hak yang memang seharusnya dimiliki oleh anak kecil seusianya.
"Oke, dua ratus kelereng!"
"Lo punya kelereng segitu? Ditangan lo cuma satu gitu ha ha"
"Di rumah gue ada kok"
"Lo jangan main-main sama gue ya!"
Ia kembali tersentak. Memang, ia tak cukup punya mental yang kuat untuk menerima hardikan dan gertakan dari para penggila kelereng. Tapi ia tetap bertahan terhadap ketidaknyamanan yang ia rasakan.
Anak kecil berperut tambun tersebut akhirnya mengeluarkan stok terakhir kelerengnya yang ia simpan di dalam kantungnya. Bukan apa-apa ia melakukan seperti itu. Ia merencanakan sesuatu di benaknya, demi membalaskan dendam yang sudah tak tertahankan lagi untuk dikekang.
Pertarungan pun kembali dimulai. Setelah saling kejar mengejar dan tubruk menubruk antar kelereng, didapatkanlah kondisi yang hampir mirip seperti dua permainan sebelumnya.
Ia sudah menduga jika hal menjijikan akan terjadi lagi. Lawan mainnya -anak gede kelas satu SMP, diam-diam menggeser kelereng yang seharusnya mudah untuk ditembak ke tempat yang sulit dijangkau. Aha! Ini kesempatan baginya untuk membalaskan dendam. Ia mengambil segenggam kelereng dari kantungnya, dan melemparkannya tepat di kepala si anak curang tersebut. Dug.
Si anak curang tentu kesakitan. Genta berharap dua hal dari momen tersebut: pertama, melegakan amarah dalam hatinya, dan menyadarkan kesalahan yang telah ia perbuat. Tapi ia setengah benar. Si anak curang tak terima diperlakukan seperti itu. Dengan badan yang lebih besar dari Genta, ia mendekati Genta dan mencekik lehernya
"Maksud lo apa hah?"
Genta tercekik. Ia tak bisa bernafas. Matanya berkunang-kunang. Ia setengah sadar. Namun saraf reflek dan otak kadal kini mengambil alih peranan. Atas nama eksistensi hidup yang harus dipertahankan, Genta mengambil kantung berisi kelereng yang ia punya, dan menghantamkan ke kepala Si anak curang dengan amat keras. Si anak curang kolaps. Ia tahu jika ia membiarkan si anak curang bebas, sudah pasti ia akan kembali dicekik oleh si anak curang. Sekali lagi, atas nama eksistensi hidup, ia kembali menghantamkan kelerengnya ke kepalanya. Dua, tiga, empat, lima.
Kebenaran tampak sudah di depan mata. Kebenaran kini telah muncul senyata-nyatanya. Si anak curang tak sadarkan diri. Dan Genta secara heroik dapat membalaskan dendamnya.
Tapi, apakah ini semua menyelesaikan masalah sebenarnya? Ketika si anak curang dinyatakan tewas terkena hantaman tumpul. Dan Genta dituduh sebagai psikopat bocah, dan menghabiskan masa-masa kecilnya di panti rehabilitasi. Tak adakah keadilan bagi Genta, yang hanya ingin merasakan indahnya bermain, dan ingin kebenaran dijunjung setinggi-tingginya. tetapi ia semakin diasingkan dari hiruk pikuk kehidupan sosial? Adakah?
Jumat, 08 November 2013
Rasa Memiliki
Rangga tak henti-hentinya menatap mainan yang baru saja dibelinya barusan bersama ibunya di pasar minggu alun-alun kota kembang. Mainan itu kini tepat berada di depan wajahnya. Sesekali ia mengangkat mainan tersebut, dan mengangkat melayang-layang di udara layaknya pesawat terbang, wuuus wuuus wuus. Seringnya ia mengelus lembut mainan yang sebenarnya adalah mobil-mobilan yang harganya kira-kira setara satu botol krim anti penuaan wanita ukuran kecil.
Itu adalah mainan pertama Rangga selama lima tahun ia hidup di dunia. Ibunya seorang buruh pemarut kelapa di pasar. Ayahnya sudah lama tiada semenjak Rangga masih dalam kandungan. Setiap subuh, Rangga selalu dibawa oleh ibunya ke pasar, ikut menemani ibunya bekerja.
"Siti, bisa kemari sebentar?" Akoh si pemilik kios, dengan senyum yang sumringah -senyum paling mahal yang pernah ditunjukkan- memanggil Siti.
"Iya koh, ada apa?" Siti meninggkan alat pemarut kelapa, menuju ke meja kerja Bosnya itu.
"Saya mau beri kamu bonus, karena selama ini kamu itu banyak membantu saya." Akoh sambil menyerahkan uang biru dua lembar.
Siti tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu.
Tiba-tiba, tanpa ada firasat dan pesan merpati yang datang sebelumnya, ia mendapatkan rezeki yang tak terduga. Uang itu, ia gunakan keesokan harinya. Pergi ke pasar minggu, satu lembar ia gunakan untuk membeli kebutuhan pokok dua minggu, sedangkan satu lembarnya lagi untuk bermain bersama Rangga, termasuk mainan yang kini masih dielus Rangga hingga ia terlelap dalam tidur siangnya.
---
Sore itu, Rangga membawa mainan mobil kesayangannya ke teras halaman rumah. Mainan buatan cina itu bisa melaju jika kita menariknya mundur ke belakang. Rangga melakukan itu. Mobilnya melaju, ia kejar dengan penuh bahagia. Ia tarik mundur kembali, kemudian melaju lagi. Ia sangat senang dengan mainan barunya itu. Sebelum ia mempunyai mainan itu, Rangga hanya bisa melihat tetangga depan rumahnya memainkan mobil-mobilan yang bisa dikendalikan dengan remote-control. Hanya bisa melihat, tanpa pernah dipinjami.
Reza, anak orang kaya yang ayahnya kerja di dubai, keluar rumah, ditemani dengan babysitter, sambil membawa mainan canggih nan mahal yang langsung dibelikan ayahnya, asli produkan eropa. Mobil itu, berukuran kira-kira lima kali lipat lebih besar dari mobil Rangga, meliak-liuk dengan lincah di jalanan aspal. Bocah gendut itu, sambil disuapi makan oleh babysitternya, memang anak yang cukup bandel. Lihat saja, jika ia sudah bosan dengan jalan-jalan biasa, ia dengan senang rasa menabrakkan mobilnya ke tembok, memaksakan mobilnya berjalan di atas kerikil becek, dan hal-hal yang membuat Rangga melongo dan berbisik pada mainan kecilnya, tenang Ringgi, aku tak akan membiarkan kamu bernasib seperti dia, aku tak mau kamu terluka sedikitpun. sambil mengelus mobilnya itu penuh dengan kasih dan sayang.
---
Rangga begitu tergesa-gesa memasukkan kakinya ke dalam celana panjangnya. Ia sudah tak sabar lagi ingin bermain keluar rumah, dengan mobil kesayangannya.
"Rangga, disisir dulu rambutnya sini"
Bahkan teriakan ibunya pun tak ia hiraukan lagi. Rangga nyelonong keluar rumah. Teras halaman depan rumah berplester semen, menyambung dengan jalanan depan rumah. Ia mulai menarik mobilnya kebelakang, dan mobil itu pun melaju. Terus saja yang ia lakukan seperti itu.
Rangga mulai penasaran dengan mobilnya itu. Selama ini ia hanya menarik mobilnya sedikit ke belakang, dan hasilnya mobil itu tak begitu jauh berjalan. Rasa keingintahuan dan ketidakpuasan menguasai pikiran anak bergigi susu itu. Ia ingin melihat mobil itu bisa melaju kencang dan jauh. Ia menarik mobil itu jauh kebelakang. Terus melangkah mundur menarik mobil kebelakang, hingga mobil itu sudah mencapai batas tarikannnya. Tapi ia tetap ingin tahu, seberapa besar sih kemampuan mobilnya itu? Ia tarik dan terus menarik kebelakang hingga mentok ke pintu rumah.
Dan yang ditunggu-tunggu Rangga akhirnya tiba. Ia bersiap melihat kemampuan maksimal dari mobilnya itu. Ia melepas genggaman mobilnya. Mobil itu melesat kencang! Rangga begitu gembira, ia kejar mobil itu. Mobil itu terlampau cepat, meninggalkan Rangga yang berlari sambil berteriak senang. Mobil itu masuk ke jalanan aspal. Baru saja mobil itu berada di tepi jalan, tak diduga dari arah samping mobil -bukan mobil-mobilan- pick up melibas mobil mainan plastik yang jika diduduki oleh orang dewasa sudah pasti remuk. Apalagi ini dilindas oleh mobil beneran yang membawa tumpukkan batu bata di belakangnya.
Rangga tak percaya apa yang terjadi di depan matanya. Mobil yang ia sayangi selama ini kini remuk, bubuk seperti tumbukan ketumbar. Bodi mobilnya sudah tak berbentuk lagi, ban-ban mobilnya hilang entah kemana, atau sebenarnya tidak kemana-mana karena sudah berubah wujud menjadi bubuk.
Di tengah jalanan aspal, di atas bangkai mobil, Rangga menangis histeris sejadi-jadinya.
---
Di rumah yang berpagar sangat tinggi itu, keluarlah anak gendut itu bersama babysitternya. Setiap sore pasti saja mereka ada di depan rumah. Anak yang sebenarnya menggemaskan jika tidak ada ingus di hidungnya itu, selalu saja berlari-lari mengikuti mobil remote controlnya itu, dan babysitternya otomatis harus mengikuti anak gempal itu pula untuk menyumpelkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.
Reza, jika sudah capek, ia berdiri di depan pagar, dan membiarkan mobil itu menabrak tembok. Mundur, maju lagi. Terus saja begitu. Ada kesenangan tersendiri. Walau sudah dilarang babysitternya ia tak bergeming.
Ia tidak puas. Mengapa mobilnya itu tidak hancur-hancur? Padahal sudah berkali-kali ia tabrakan ke tembok. Ia sangat ingin melihat sampai sejauh mana mobilnya dapat bertahan. Sebenarnya ia lebih ingin melihat mobilnya hancur, lagian ia sudah bosan dengan mainan tersebut.
Reza tiba-tiba menyunggingkan senyumnya lebar-lebar, memperlihatkan gigi yang tanggal dua di atas dan bawah. Ia menunggu sesuatu yang datang. Mobil yang ada disampingnya bersiap melaju. Barang yang ia tunggu sudah terlihat. Mobil pick up yang membawa batu bata melaju dengan lumayan kencang. Merasa timingnya sudah tepat, Reza melajukan mobilnya ke depan. Buuuummmmm. Mobil pick up itu terangkat ke samping, membuat hentakan. Buuuuuummm. Mobil remote control itu kini terkena ban belakang mobil pick up.
Reza dengan semangat mendekati mobil remote control itu. Bubuk. Remuk. Bodi mobilnya penyok tak karuan, ban-ban mobilnya hilang entah kemana, atau sebenarnya tidak kemana-mana karena sudah berubah wujud menjadi bubuk.
Di tengah jalanan aspal, di atas bangkai mobil, Reza berteriak kegirangan sejadi-jadinya.
---
Tahukah kalian, mencintai berlebihan itu tidak baik? Karena jika kita mencintai secara berlebihan, kita tak pernah mempersiapkan untuk menghadapi kehilangan. Dan tahukah kalian, menguasai berlebihan itu tidak baik? Karena jika kita menguasai sesuatu secara berlebihan, kita hanya menuruti ego kita sendiri, tak peduli betapa sakitnya orang yang kita kuasai tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)