Hey sob!
Kali ini saya pengen nyeritain ke kalian tentang... yaa sedikit tentang masalah lika-liku kehidupan gitu lah, bingung saya juga mau dibilang apa tulisan saya ini. Curhat iya juga, keluh kesah juga iya, terserah sobat lah yang baca tulisan ini. Ya walaupun saya juga nggak tahu, sebenernya ada nggak sih yang ngebaca tulisan saya ini? Hahaha peduli amat lah :)
Sob, saya butuh saran dari kalian sebenernya. Tentang arti rasa sayang dan setia. Oke kita mulai dulu dari yang namanya Setia.
Setia itu makhluk apa sih?
Kalo kata KBBI, setia itu adalah : berpegang teguh (pd janji, pendirian, dsb); patuh; taat. Okey... kita sepakatin aja yah, kalo setia itu merupakan suatu sikap dedikasi, dedikasi terhadap sesuatu hal yang ia janjikan untuk ia jaga dengan sepenuh hati, apapun yang terjadi. Yap. Apapun yang terjadi. Tolong dibold italic underline kata yang tadi itu dalam hati aja yah. Okey, setelah kita mencoba mendefinisikan arti dari kata Setia tersebut, otomatis kita bisa mengambil statement, seseorang bisa dikatakan setia kalo dia tetap berkomitmen memegang semua janji-janjinya walaupun semua hambatan dan segala bentuk godaan datang menghampiri batinnya. Nah, sebaliknya sob, kalo dia udah tidak lagi menjaga janji-janjinya tersebut, walau dia punya alasan terkuat apapun utnuk melakukan itu, tetap saja dia sudah tak bisa dikatakan setia lagi.
Kita coba ambil contoh deh sob. Hem misalnya kita ambil dalam kehidupan sehari-hari. Handphone! Paling lama setia sama handphone kamu berapa lama sih? Sebulan kamu setiaaa banget sama HP baru kamu. Hari-hari pertama diliatiiiin terus tuh HP, dielus-elus, dipelototin. Kesenggol dikit doang ributnya minta ampun. Pokoknya nggak rela deh HP kesayangan kamu kalo sampe kenapa-napa.
Tapi, seiring dengan mengalirnya waktu yang kian terasa deras, lama kelamaan rasa peduli kamu sama tuh HP berkurang juga. Intensitas melototin HP nggak kayak dulu. Kalo HP bisa ngomong, pasti HP tuh bilang "Kamu udah berubah yah, kamu udah nggak kayak dulu lagi!" Oooh tragis sekali nasib HP itu, tapi setidaknya ada satu fakta menyenangkan jika ternyata HP itu sama sekali nggak bisa ngungkapin isi hatinya. Hiks. Sampai disini kamu masih bisa dibilang setia nggak? Yaa masihlah, kan selama ini cuma HP itu yang menemani hari-harinya kamu.
Setia itu kebagi dua. Setia tulus sama setia kepaksa. Setia tulus yaa dia setia karena dia emang pengen ngejaga si entitas tersebut. Kalo setia kepaksa? Itumah setia gara-gara si dia nggak punya pilihan lagi selain tetap "menjaga" entitas itu. Nggak bisa milih lagi. Nah ini nih. Setia kepaksa bisa dibilang setia nggak setia. Bisa dikasarkan jadi, ia masih setia sampai ia punya kekuatan untuk memilih yang lebih baik, menurut pandangan dia.
Balik lagi ke masalah HP. Adakalanya setia itu berpindah jenis. Yang tadinya setia tulus, jadi setia kepaksa. Kalo udah sampe tahap setia kepaksa, si dia pasti bakal memikirkan cara untuk pindah ke lain HP. Nabung misalnya. Nah selama nabung buat beli HP baru itulah, dia sedang berada dalam fase setia kepaksa. Setia kepaksa sama aja setia yang semu, setia yang dusta. Setelah uang tabungannya cukup untuk beli HP baru, secara resmi orang itu dikatakan TIDAK SETIA lagi sama HP yang lama, HP yang telah menemani setiap jengkal waktu bersama pemiliknya. HP yang selalu ada disaat sang pemiliknya membutuhkan. Rela bertahan walau digunakan dalam kondisi apapun. Dan ternyata, seloyal apapun, sebesar apapun pengorbanan yang diberikan HP untuk sang pemilik HPnya (lebay nggak sih?), tetap saja ia dicampakkan. Alasannya satu, kamu udah bukan yang terbaik lagi. Huh, tragis nian nasib kau ni.
Nah, itu cuma analogi sederhana yang sedikit maksa tentang arti setia. Dan kita melanjut ke pertanyaan selanjutnya: Setia terhadap hati yang sama. Haruskah begitu?
Okey, please wait my next post. Be Patient! Thanks a lot for your read time!
Kita coba ambil contoh deh sob. Hem misalnya kita ambil dalam kehidupan sehari-hari. Handphone! Paling lama setia sama handphone kamu berapa lama sih? Sebulan kamu setiaaa banget sama HP baru kamu. Hari-hari pertama diliatiiiin terus tuh HP, dielus-elus, dipelototin. Kesenggol dikit doang ributnya minta ampun. Pokoknya nggak rela deh HP kesayangan kamu kalo sampe kenapa-napa.
Tapi, seiring dengan mengalirnya waktu yang kian terasa deras, lama kelamaan rasa peduli kamu sama tuh HP berkurang juga. Intensitas melototin HP nggak kayak dulu. Kalo HP bisa ngomong, pasti HP tuh bilang "Kamu udah berubah yah, kamu udah nggak kayak dulu lagi!" Oooh tragis sekali nasib HP itu, tapi setidaknya ada satu fakta menyenangkan jika ternyata HP itu sama sekali nggak bisa ngungkapin isi hatinya. Hiks. Sampai disini kamu masih bisa dibilang setia nggak? Yaa masihlah, kan selama ini cuma HP itu yang menemani hari-harinya kamu.
Setia itu kebagi dua. Setia tulus sama setia kepaksa. Setia tulus yaa dia setia karena dia emang pengen ngejaga si entitas tersebut. Kalo setia kepaksa? Itumah setia gara-gara si dia nggak punya pilihan lagi selain tetap "menjaga" entitas itu. Nggak bisa milih lagi. Nah ini nih. Setia kepaksa bisa dibilang setia nggak setia. Bisa dikasarkan jadi, ia masih setia sampai ia punya kekuatan untuk memilih yang lebih baik, menurut pandangan dia.
Balik lagi ke masalah HP. Adakalanya setia itu berpindah jenis. Yang tadinya setia tulus, jadi setia kepaksa. Kalo udah sampe tahap setia kepaksa, si dia pasti bakal memikirkan cara untuk pindah ke lain HP. Nabung misalnya. Nah selama nabung buat beli HP baru itulah, dia sedang berada dalam fase setia kepaksa. Setia kepaksa sama aja setia yang semu, setia yang dusta. Setelah uang tabungannya cukup untuk beli HP baru, secara resmi orang itu dikatakan TIDAK SETIA lagi sama HP yang lama, HP yang telah menemani setiap jengkal waktu bersama pemiliknya. HP yang selalu ada disaat sang pemiliknya membutuhkan. Rela bertahan walau digunakan dalam kondisi apapun. Dan ternyata, seloyal apapun, sebesar apapun pengorbanan yang diberikan HP untuk sang pemilik HPnya (lebay nggak sih?), tetap saja ia dicampakkan. Alasannya satu, kamu udah bukan yang terbaik lagi. Huh, tragis nian nasib kau ni.
Nah, itu cuma analogi sederhana yang sedikit maksa tentang arti setia. Dan kita melanjut ke pertanyaan selanjutnya: Setia terhadap hati yang sama. Haruskah begitu?
Okey, please wait my next post. Be Patient! Thanks a lot for your read time!