Jumat, 08 November 2013

Rasa Memiliki

Rangga tak henti-hentinya menatap mainan yang baru saja dibelinya barusan bersama ibunya di pasar minggu alun-alun kota kembang. Mainan itu kini tepat berada di depan wajahnya. Sesekali ia mengangkat mainan tersebut, dan mengangkat melayang-layang di udara layaknya pesawat terbang, wuuus wuuus wuus. Seringnya ia mengelus lembut mainan yang sebenarnya adalah mobil-mobilan yang harganya kira-kira setara satu botol krim anti penuaan wanita ukuran kecil.

Itu adalah mainan pertama Rangga selama lima tahun ia hidup di dunia. Ibunya seorang buruh pemarut kelapa di pasar. Ayahnya sudah lama tiada semenjak Rangga masih dalam kandungan. Setiap subuh, Rangga selalu dibawa oleh ibunya ke pasar, ikut menemani ibunya bekerja.

"Siti, bisa kemari sebentar?" Akoh si pemilik kios, dengan senyum yang sumringah -senyum paling mahal yang pernah ditunjukkan- memanggil Siti.

"Iya koh, ada apa?" Siti meninggkan alat pemarut kelapa, menuju ke meja kerja Bosnya itu.

"Saya mau beri kamu bonus, karena selama ini kamu itu banyak membantu saya." Akoh sambil menyerahkan uang biru dua lembar.

Siti tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya itu.
 
Tiba-tiba, tanpa ada firasat dan pesan merpati yang datang sebelumnya, ia mendapatkan rezeki yang tak terduga. Uang itu, ia gunakan keesokan harinya. Pergi ke pasar minggu, satu lembar ia gunakan untuk membeli kebutuhan pokok dua minggu, sedangkan satu lembarnya lagi untuk bermain bersama Rangga, termasuk mainan yang kini masih dielus Rangga hingga ia terlelap dalam tidur siangnya.

---

Sore itu, Rangga membawa mainan mobil kesayangannya ke teras halaman rumah. Mainan buatan cina itu bisa melaju jika kita menariknya mundur ke belakang. Rangga melakukan itu. Mobilnya melaju, ia kejar dengan penuh bahagia. Ia tarik mundur kembali, kemudian melaju lagi. Ia sangat senang dengan mainan barunya itu. Sebelum ia mempunyai mainan itu, Rangga hanya bisa melihat tetangga depan rumahnya memainkan mobil-mobilan yang bisa dikendalikan dengan remote-control. Hanya bisa melihat, tanpa pernah dipinjami.

Reza, anak orang kaya yang ayahnya kerja di dubai, keluar rumah, ditemani dengan babysitter, sambil membawa mainan canggih nan mahal yang langsung dibelikan ayahnya, asli produkan eropa. Mobil itu, berukuran kira-kira lima kali lipat lebih besar dari mobil Rangga, meliak-liuk dengan lincah di jalanan aspal. Bocah gendut itu, sambil disuapi makan oleh babysitternya, memang anak yang cukup bandel. Lihat saja, jika ia sudah bosan dengan jalan-jalan biasa, ia dengan senang rasa menabrakkan mobilnya ke tembok, memaksakan mobilnya berjalan di atas kerikil becek, dan hal-hal yang membuat Rangga melongo dan berbisik pada mainan kecilnya, tenang Ringgi, aku tak akan membiarkan kamu bernasib seperti dia, aku tak mau kamu terluka sedikitpun. sambil mengelus mobilnya itu penuh dengan kasih dan sayang.

---

Rangga begitu tergesa-gesa memasukkan kakinya ke dalam celana panjangnya. Ia sudah tak sabar lagi ingin bermain keluar rumah, dengan mobil kesayangannya.

"Rangga, disisir dulu rambutnya sini"

Bahkan teriakan ibunya pun tak ia hiraukan lagi. Rangga nyelonong keluar rumah. Teras halaman depan rumah berplester semen, menyambung dengan jalanan depan rumah. Ia mulai menarik mobilnya kebelakang, dan mobil itu pun melaju. Terus saja yang ia lakukan seperti itu.

Rangga mulai penasaran dengan mobilnya itu. Selama ini ia hanya menarik mobilnya sedikit ke belakang, dan hasilnya mobil itu tak begitu jauh berjalan. Rasa keingintahuan dan ketidakpuasan menguasai pikiran anak bergigi susu itu. Ia ingin melihat mobil itu bisa melaju kencang dan jauh. Ia menarik mobil itu jauh kebelakang. Terus melangkah mundur menarik mobil kebelakang, hingga mobil itu sudah mencapai batas tarikannnya. Tapi ia tetap ingin tahu, seberapa besar sih kemampuan mobilnya itu? Ia tarik dan terus menarik kebelakang hingga mentok ke pintu rumah.

Dan yang ditunggu-tunggu Rangga akhirnya tiba. Ia bersiap melihat kemampuan maksimal dari mobilnya itu. Ia melepas genggaman mobilnya. Mobil itu melesat kencang! Rangga begitu gembira, ia kejar mobil itu. Mobil itu terlampau cepat, meninggalkan Rangga yang berlari sambil berteriak senang. Mobil itu masuk ke jalanan aspal. Baru saja mobil itu berada di tepi jalan, tak diduga dari arah samping mobil -bukan mobil-mobilan- pick up melibas mobil mainan plastik yang jika diduduki oleh orang dewasa sudah pasti remuk. Apalagi ini dilindas oleh mobil beneran yang membawa tumpukkan batu bata di belakangnya.

Rangga tak percaya apa yang terjadi di depan matanya. Mobil yang ia sayangi selama ini kini remuk, bubuk seperti tumbukan ketumbar. Bodi mobilnya sudah tak berbentuk lagi, ban-ban mobilnya hilang entah kemana, atau sebenarnya tidak kemana-mana karena sudah berubah wujud menjadi bubuk.

Di tengah jalanan aspal, di atas bangkai mobil, Rangga menangis histeris sejadi-jadinya.

---

Di rumah yang berpagar sangat tinggi itu, keluarlah anak gendut itu bersama babysitternya. Setiap sore pasti saja mereka ada di depan rumah. Anak yang sebenarnya menggemaskan jika tidak ada ingus di hidungnya itu, selalu saja berlari-lari mengikuti mobil remote controlnya itu, dan babysitternya otomatis harus mengikuti anak gempal itu pula untuk menyumpelkan sesuap nasi ke dalam mulutnya.

Reza, jika sudah capek, ia berdiri di depan pagar, dan membiarkan mobil itu menabrak tembok. Mundur, maju lagi. Terus saja begitu. Ada kesenangan tersendiri. Walau sudah dilarang babysitternya ia tak bergeming.

Ia tidak puas. Mengapa mobilnya itu tidak hancur-hancur? Padahal sudah berkali-kali ia tabrakan ke tembok. Ia sangat ingin melihat sampai sejauh mana mobilnya dapat bertahan. Sebenarnya ia lebih ingin melihat mobilnya hancur, lagian ia sudah bosan dengan mainan tersebut.

Reza tiba-tiba menyunggingkan senyumnya lebar-lebar, memperlihatkan gigi yang tanggal dua di atas dan bawah. Ia menunggu sesuatu yang datang. Mobil yang ada disampingnya bersiap melaju. Barang yang ia tunggu sudah terlihat. Mobil pick up yang membawa batu bata melaju dengan lumayan kencang. Merasa timingnya sudah tepat, Reza melajukan mobilnya ke depan. Buuuummmmm. Mobil pick up itu terangkat ke samping, membuat hentakan. Buuuuuummm. Mobil remote control itu kini terkena ban belakang mobil pick up.

Reza dengan semangat mendekati mobil remote control itu. Bubuk. Remuk. Bodi mobilnya penyok tak karuan, ban-ban mobilnya hilang entah kemana, atau sebenarnya tidak kemana-mana karena sudah berubah wujud menjadi bubuk.

Di tengah jalanan aspal, di atas bangkai mobil, Reza berteriak kegirangan sejadi-jadinya.

---

Tahukah kalian, mencintai berlebihan itu tidak baik? Karena jika kita mencintai secara berlebihan, kita tak pernah mempersiapkan untuk menghadapi kehilangan. Dan tahukah kalian, menguasai berlebihan itu tidak baik? Karena jika kita menguasai sesuatu secara berlebihan, kita hanya menuruti ego kita sendiri, tak peduli betapa sakitnya orang yang kita kuasai tersebut.

Senin, 28 Oktober 2013

Definisi Setia

Hey sob!

Kali ini saya pengen nyeritain ke kalian tentang... yaa sedikit tentang masalah lika-liku kehidupan gitu lah, bingung saya juga mau dibilang apa tulisan saya ini. Curhat iya juga, keluh kesah juga iya, terserah sobat lah yang baca tulisan ini. Ya walaupun saya juga nggak tahu, sebenernya ada nggak sih yang ngebaca tulisan saya ini? Hahaha peduli amat lah :)

Sob, saya butuh saran dari kalian sebenernya. Tentang arti rasa sayang dan setia. Oke kita mulai dulu dari yang namanya Setia.

Setia itu makhluk apa sih?
 
Kalo kata KBBI, setia itu adalah : berpegang teguh (pd janji, pendirian, dsb); patuh; taat. Okey... kita sepakatin aja yah, kalo setia itu merupakan suatu sikap dedikasi, dedikasi terhadap sesuatu hal yang ia janjikan untuk ia jaga dengan sepenuh hati, apapun yang terjadi. Yap. Apapun yang terjadi. Tolong dibold italic underline kata yang tadi itu dalam hati aja yah. Okey, setelah kita mencoba mendefinisikan arti dari kata Setia tersebut, otomatis kita bisa mengambil statement, seseorang bisa dikatakan setia kalo dia tetap berkomitmen memegang semua janji-janjinya walaupun semua hambatan dan segala bentuk godaan datang menghampiri batinnya. Nah, sebaliknya sob, kalo dia udah tidak lagi menjaga janji-janjinya tersebut, walau dia punya alasan terkuat apapun utnuk melakukan itu, tetap saja dia sudah tak bisa dikatakan setia lagi.
Kita coba ambil contoh deh sob. Hem misalnya kita ambil dalam kehidupan sehari-hari. Handphone! Paling lama setia sama handphone kamu berapa lama sih? Sebulan kamu setiaaa banget sama HP baru kamu. Hari-hari pertama diliatiiiin terus tuh HP, dielus-elus, dipelototin. Kesenggol dikit doang ributnya minta ampun. Pokoknya nggak rela deh HP kesayangan kamu kalo sampe kenapa-napa.

Tapi, seiring dengan mengalirnya waktu yang kian terasa deras, lama kelamaan rasa peduli kamu sama tuh HP berkurang juga. Intensitas melototin HP nggak kayak dulu. Kalo HP bisa ngomong, pasti HP tuh bilang "Kamu udah berubah yah, kamu udah nggak kayak dulu lagi!" Oooh tragis sekali nasib HP itu, tapi setidaknya ada satu fakta menyenangkan jika ternyata HP itu sama sekali nggak bisa ngungkapin isi hatinya. Hiks. Sampai disini kamu masih bisa dibilang setia nggak? Yaa masihlah, kan selama ini cuma HP itu yang menemani hari-harinya kamu.

Setia itu kebagi dua. Setia tulus sama setia kepaksa. Setia tulus yaa dia setia karena dia emang pengen ngejaga si entitas tersebut. Kalo setia kepaksa? Itumah setia gara-gara si dia nggak punya pilihan lagi selain tetap "menjaga" entitas itu. Nggak bisa milih lagi. Nah ini nih. Setia kepaksa bisa dibilang setia nggak setia. Bisa dikasarkan jadi, ia masih setia sampai ia punya kekuatan untuk memilih yang lebih baik, menurut pandangan dia.

Balik lagi ke masalah HP. Adakalanya setia itu berpindah jenis. Yang tadinya setia tulus, jadi setia kepaksa. Kalo udah sampe tahap setia kepaksa, si dia pasti bakal memikirkan cara untuk pindah ke lain HP. Nabung misalnya. Nah selama nabung buat beli HP baru itulah, dia sedang berada dalam fase setia kepaksa. Setia kepaksa sama aja setia yang semu, setia yang dusta. Setelah uang tabungannya cukup untuk beli HP baru, secara resmi orang itu dikatakan TIDAK SETIA lagi sama HP yang lama, HP yang telah menemani setiap jengkal waktu bersama pemiliknya. HP yang selalu ada disaat sang pemiliknya membutuhkan. Rela bertahan walau digunakan dalam kondisi apapun. Dan ternyata, seloyal apapun, sebesar apapun pengorbanan yang diberikan HP untuk sang pemilik HPnya (lebay nggak sih?), tetap saja ia dicampakkan. Alasannya satu, kamu udah bukan yang terbaik lagi. Huh, tragis nian nasib kau ni.

Nah, itu cuma analogi sederhana yang sedikit maksa tentang arti setia. Dan kita melanjut ke pertanyaan selanjutnya: Setia terhadap hati yang sama. Haruskah begitu?

Okey, please wait my next post. Be Patient! Thanks a lot for your read time!