Arie Pratama, anak pertama dari tiga bersaudara. Lelaki kelahiran
Bandung, 25 Januari 1996. Tak ada hal spesial yang bisa diceritakan dari
pemuda ini, selain beberapa catatan perjalanan hidupnya. Terlahir
sebagai bayi caesar dengan berat 2,9 kg. Sempat dikira menderita authism
karena kemampuan berbicaranya tak kunjung berkembang pada usia 3 tahun,
Arie didiagnosa mengalami Developmental Languange Disorder (DLD).
Perjuangan ayah dan ibunya mencari pengobatan untuk buah hatinya amatlah
berat. Bolak-balik masuk Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) untuk di-scan
otaknya menggunakan Electroencephalography (EEG), mengikuti terapi pelatihan berbicara berbarengan dengan pasien penderita stroke, hingga mengeluarkan uang ratusan ribu rupiah hanya untuk sebotol obat sirup yang ternyata tidak menimbulkan efek
apapun. Merasa menemui jalan buntu, orang tua Arie membawanya ke Pusat
Pengembangan Potensi Anak (PUSPPA) Yayasan Suryakanti Bandung. Terlihat
kemajuan yang masif dalam perkembangan berbicaranya, cukup meredam kekhawatiran orang tuanya akan masa depan anaknya.
Memulai hari pertama masuk SD Asy-Syifa 1 Bandung pada usia 5 tahun, setelah sebelumnya mengeyam pendidikan di TK Islam Taman Firdaus Bandung. Pernah ditinggalkan orang tua dan kedua adiknya yang merantau ke Indramayu, hingga akhirnya menyusul 6 bulan setelahnya karena menunggu ia lulus SD. Melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 2 Sindang Indramayu. Awal masuk sekolah sedikit mengalami kesulitan berkomunikasi dengan teman sebayanya yang sering menggunakan bahasa daerahnya. Walaupun Bandung dan Indramayu sama-sama terletak di Provinsi Jawa Barat, tetapi orang Indramayu tak mengerti Bahasa Sunda. Begitupun sebaliknya, karena Indramayu memiliki Bahasa Dermayu sebagai bahasa daerahnya.
Lulus SMP ia mendaftar dan diterima di SMA Negeri 1 Sindang Indramayu. Satu bulan tinggal di kelas X-9, lalu kemudian pindah kelas dan masuk ke program Akselerasi. Dipaksa lulus SMA dalam 2 tahun, membuatnya ia sedikit menyesal karena masa indah di SMA menjadi hangus 1 tahun.
Kini sedang melanjutkan pendidikan D-3 di Sekolah Tinggi Energi dan Mineral (STEM - Akamigas), salah satu perguruan tinggi kedinasan dibawah Kementerian ESDM. Cita-cita Arie terasa begitu nyata di dalam imajinasinya, beberapa diantaranya adalah Merumuskan Konsep Three Role #superapra, Menerbitkan Novel Apranite, dan Menjadi Public Speaker serta Mendirikan Pabrik Petrokimia skala besar dan bonafit. Semua ini sesuai dengan prinsip hidup Arie "Sebaik-baiknya orang adalah yang bermanfaat bagi sesamanya"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar